by: Prof.Dr. IP. Sudiarsa Boy Arsa, Ph.D

(Guru Besar & Senior Parther Universal Istitute of Professional Management California- USA)

 

Komisi Inggris untuk melawan Ekstremisme melaporkan secara resmi perihal “Hubungan antara Ekstremisme dengan pandemi Covid-19” (British Commission for Countering Extremism rilis report “Relationship between Covid-19 pandemic & Extremism”). Sesungguhnya kaum Hateful extremist (Ekstrimis kebencian) untuk mencapai tujuannya telah menunggangin pandemic Covid-19 yang melanda dunia dengan cara menyebar disinformasi dan fake news (berita bohong). Strategi ini dilakukan oleh kaum Ekstrimis untuk memperkuat Amunisi bagi simpatisannya (Sympathizer) guna melakuksn menjustifikasi, menebar hatespeech (kebencian), melakukan violence (kekerasan) dan strategi memecah belah.

 

Dampak jangka pendek dan atau jangka panjang dari situasi pandemi Covid-19 ini ( The short & long term impacts of the pandemic) merupakan kondisi yang sangat kondusif dan menguntungkan bagi kelompok extremisme. Dengan situasi yang menguntungkan ini kelompok extrimis akan sangat mudah mengkapitalisasi socio-economic (sosial ekonomi), menebar hatespeech (kebencian), violence dan menyulut perpecahan.

 

Gambaran yang muncul diseputar kelompok Ekstremis yang penuh dengan kebencian (The emerging picture around hateful extremist) misalnya Neo-Nazi yang telah mempromosikan (Neo-Nazi promoting) anti minoritas, Middle east terror (teror timur tengah), mengusung anti-demokrasi, anti- barat (west ) dan atau anti-China, Tudingan The far right extrimist (Ekstremis paling kanan) bahwa Covid-19 adalah Jews Plot(plot Yahudi), 5G is to blame (menyalahkan teknologi 5G), Politisi Right Wings (politisi sayap kanan) mengirim pesan yang sangat populis yaitu berupa hasutan anti ethnic (etnis), racial , religious community (komunitas Agama), dan immigrants (pendatang).

 

Institut Untuk Dialog Strategi (ISD) adalah organisasi nirlaba independen yang didedikasikan untuk melindungi hak asasi manusia dan membalikkan gelombang polarisasi, ekstremisme, dan disinformasi yang meningkat di seluruh dunia (Institute for Strategic Dialogue is an independent, non-profit organisation dedicated to safeguarding human rights and reversing the rising tide of polarisation, extremism and disinformation worldwide) yang beralamat di London menemukan bahwa extreme right (ekstrim kanan) memainkan dan mengeksplotasi pandemi Covid-19 ini sebagai “accelerationism”. Mereka memperomosikan ide demokrasi (promote idea demokrasi) adalah sistem yang gagal sehingga harus diganti. Menurut kaum Ekstremis kanan Akselerasi bisa diperoleh dengan cara menciptakan konflik sosial (social conflict) dan kekerasan (violence).

 

Tiga tema (themes) yang tepat diusung dan yang dianggap relevan (relevant) dalam situasi pandemi Covid-19 oleh kelompok Ekstremis kebencian (hateful extremist) adalah Conspiracy theories (teori kebencian), Blaming out groups & the “other” (menyalahkan kelompok dan atau orang lain) dan psuedo pro social attitudes (sikap pro sosial yang semu).

 

Begitu juga di Indonesia; kelompok Anti Pemerintahan Jokowi mulai bermanufer dengan menggunakan Pola turun kelas (down-grade), Presiden Jokowi dianggap gagal menangani virus (handle virus) Covid-19 dilain pihak kelompok Oposisi di Indonesia menyatakan diri seolah-olah paling pinter dan paling mampu menangani (handle) virus Covid-19.

Dengan situasi Cash negara yang kurang setabil dari sejak pemerintahan sebelumnya, negara tidak akan mampu menerapkan lockdown untuk mengatasi pandemi Covid-19 karena pemerintah tidak mempunyai anggaran yang cukup untuk membiayai hidup rakyatnya selama berlangsungnya Lockdown. Akan tetapi Kelompok Oposisi pemerintah menyatakan dengan percaya diri jika meraka yang berkuasa akan mampu dan yakin untuk mengatasi pandemi Covid-19, pernyataan ini dipublikasikan untuk meyakinkan publik sehingga publik mau mendukung kelompok mereka. Seperti pribahasa mengatakan Lidah tidak bertulang, kelompok oposisi pemerintah ini begitu mudah dan gampangnya membuat statemen yang bersifat propaganda dan menghasut. Pengamat politik dan ekonomi Internasional memperkirakan Jika bukan Jokowi menjadi Presiden di Indonesia maka negara Indonesia diperkirakan sudah hancur dan runtuh di tangan kaum extrimist.

 

Situasi pandemi Covid-19 ini menyulitkan pemerintah untuk merilis intervensi kontra kelompok ekstremis vital (vital kontra ekstremisme). Terutama pada saat pemberlakuan masa PPKM. Kelompok oposisi dan atau extrimis beroperasi dominan secara online (dominan online) dengan cara Eksploitasi semua panggung (platform) media sosial.

 

Kelompok Oposisi Indonesia mencoba menggoyang pemerintah dengan menggunakan referensi peristiwa yang terjadi dinegara India yaitu beberapa menteri dikabinet Perdana Mentri Modi telah pengunduran diri dan atau Demonstrasi besar besaran Anti-Lockdown yang terjadi dinegara Cuba. Kelompok oposisi berharap para Menteri dikabinet Presiden Jokowi tidak solid.

 

Pemerintah Jokowi sebaiknya siaga dan waspada karena kepercayaan publik sewaktu waktu bisa cepat berubah. Contohnya seperti penomena yang terjadi dinegara Inggris yg mana pada Bulan Januari, King’s College London merilis laporan dukungan publik hampir universal yaitu 89% publik puas dengan Pemerintah Inggris dalam menangani Covid-19.

 

Laporan “YouGov” pada bulan Maret menyatakan 72% publik Inggris percaya pemerintah sangat baik menangani Covid-19 tetapi sembilan minggu kemudian tepatnya pada 29 Mei, kepercayaan publik turun menjadi 41% seiring terjadinya infeksi gelombang kedua.

 

Pengurangan kepercayaan pada pemerintah & lembaga negara bisa dieksploitasi secara extrimis untuk menyebarkan narasi kebencian & perpecahan mereka (A reduction of trust in government & state institution bisa diexploitasi extrimis to spread their hateful & divise narratives).

 

Pemerintah Indonesia bisa melakukan seperti yang sudah dilakukan pemerintah Inggris seperti contoh pemerintah Inggris melalui lembaga British Center for Countering Digital Hate telah menutup akun aktor ekstrim kanan yaitu Stephen Yaxley-Lennon setelah memposting artikel dengan menyudutkan publik Muslim yang terinfeksi Covid-19 dengan istilah “corona bomb (bom Corona)” ditelegramnya. Stephen Yaxley-Lennon menggunakan hastag #GermJihad.

 

Sebuah Al-based Start-up yang bernama “L1ght” melaporkan kenaikan 900% dalam hastag yang ter-identifikasi masuk kategori “hateful (penuh kebencian)” terhadap (Chinese people) orang Cina di Twitter.

 

Polisi cyber Indonesia sebaiknya jangan membiarkan akun tokoh-tokoh provokator yang takut Kedoknya dianggap “oposisi” meraja lela mempengaruhi publik, Kebebasan dan demokrasi seperti itu adalah kebebasan dan demokrasi yang dimanipulasi dan tidak bertanggung jawab terhadap keutuhan negara. Salah satu cantoh kelakuan oposisi adalah dengan cara menularkan covidiot.

 

Selain membungkam provokator utama dengan metode “membunuh 1 ayam, akan menakuti 100 monyet”, Polisi Cyber ​​sebaiknya juga menggelar Operasi “Deplatforming” pada akun-akun oposisi jahat. Selain itu Pemerintah juga dapat menerapkan metode “tangan besi tepat sasaran” kepada mereka yang mengancam demokrasi dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here